Pentingnya Pemetaan Sosiologi Komunitas Asia

Guru Besar Sosiologi, Universitas Bangka Belitung, Prof Dr. Bustami Rahman  saat menyampaikan materi  International Class on Asian community di Universitas Bangka Belitung, Jumat (8/3/2019).(wb)
Guru Besar Sosiologi, Universitas Bangka Belitung, Prof Dr. Bustami Rahman saat menyampaikan materi International Class on Asian community di Universitas Bangka Belitung, Jumat (8/3/2019).(wb)

PANGKALPINANG,wowbabel.com -- International Class on Asian community , kelas internasioanl yang diselenggarakan berkat kerjasama Faculty of Social and Political Sciences Universitas Bangka Belitung and One Asia Foundation kembali digelar, Jumat (8/3/2019) siang.

Kali ini materi yang diberikan adalah membahas pentingnya pemetaan sosiologi pada Komunitas Asia. Dengan narasumber Guru Besar Sosiologi, Universitas Bangka Belitung, Prof Dr. Bustami Rahman beserta Syafri Hariansah dari Ankara University ,Turkey.

Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku sosial antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok.

Manusia sebagai makhluk sosial tidak pernah jauh dengan namanya hubungan sosial, karena bagaimanapun hubungan tersebut mempengaruhi perilaku seseorang. Sebagai bidang studi , sosiologi memiliki ruang lingkup yang luas, diantaranya bagaiman orang mempengaruhi kita, kita mempengaruhi orang Baik institusi , ekonomi, agama, politik bahkan hal lainnya.

Menurut Bustami Rahman, berbicara sosiologi terutama pemetaannya, maka sama dengan berbicara peradaban. Sebagai salah satu negara yang tergabung dalam Kelompok Asia, maka apa yang menjadi fokus Indonesia maupun negara lain, menjadi fokus dunia. 

"Sosial politik yang ada di Indonesia secara tidak langsung dipengaruhi sosial politik Asia, kita sebenarnya satu rumpun yang mengalir ke bawah, yang akhirnya berbeda beda, karena pengaruh dari sosial politik, revolusi, perang maupun kemerdekaan. Yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu efolutif dan infolutif," ungkap Bustami.

Saat ini Indonesia masih tergolong Infolutif, masih berputar-putar , untuk itu sebagai Bangsa Indonesia kita diharapkan dapat menegakkan efolutif, yang pertumbuhannya  bergerak ke atas.

"Kita harus memiliki pandangan yang kuat, sehingga sistem yang dibangun sistem sosial politik yang kuat maka bisa membangun peradaban yang baik.

Untuk itu , Bustami berharap UBB dapat memberi pemahaman tentang pentingnya pemetaan sosiologi bagi mahasiswa, agar memiliki mentalitas yang baik maka akan tercipta generasi yang baik.

"Pemahaman tentang pemetaan sosiologi sangatlah penting , agar terbangun mentalitas yang baik, mengapa menekankan mentalitas? Karena mentalitas nomer satu , sedangkan intelektual sama saja dengan orang lain, mentalitas harus dibangun, jangan sampai terpuruk," ujarnya.

Salah satu cara agar dapat membangun mentalitas ialah dengan kerja keras, salah satu contohnya menghargai waktu, serta disiplin dalam segala hal.

Menilik Isu Nasionalisme di Turki

Hampir sama dengan Bustami Rahman , Syafri  Hariansah dari Ankara University ,Turkey. Menekankan pada pandangan nasionalisme di negara Turki, sebagai salah satu contoh negara tetangga yang syarat akan nasionalismenya.

Nasionalisme di Turki  lebih identik dengan rakyatnya. Dimana  rakyat Turki rela berkorban jiwa  dan raga untuk mempertahankan negara maupun pemimpinnya.

" Contoh nasionalisme di Turki, bagaimanan rakyat Turki memberikan semangat mereka ke negara dalam konteks yang lalu. Misalnya. Tanggal 15 Juli 2016 terjadi kudeta di Turki, dan saya jadi salah satu saksinya. Saya melihat nasionalisme orang Turki luar biasa, mereka rela mati demi mempertahankan negara mereka. Pemimpin mereka, karena satu-satunya Presiden Turki yang dipilih secara langsung ialah Raja Taib Erdogan ," tutur Syafri.

Dan apakah ini menjadi persoalan serius di Indonesia? jawabnya ia. Karena ketika kita berbicara dalam konteks hari ini ( saat ini), seluruh orang yang ada di Indonesia selalu mengkaitkan dengan isu nasionalisme , pancasilaisme , yang sebenarnya bagaimana nasionalisme itu sendiri ? Sehingga kita bingung, karena kerangka berfikir kita maupun konsep berpikir kita tidak sampai kesana.

" Kita bicara nasionalisme, pancasilaisme namun kita tidak tahu esensinya apa, benarkah nasionalisme itu satu upaya untuk mempertahankan tanah air? Cinta tanah air? benarkah sikap Pancasilaisme kita saat ini,  kita tidak melanggar hak hak orang lain? Karena dengan kita mengklaim pancasilais tanpa disadari kita telah mengekang hak hak orang lain. Contohnya , Pancasila, sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa , namun yang terjadi saat ini ada mayoritas dan minoritas , yang telah mengekang hak orang lain, dan jika kita bilang kita Pancasilais maka selesai,  tidak ada perdebatan, karena sesuai sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa," tutur Syafri.

Terus apakah di Indonesia sama dengan turki? Secara komparasi, apple to apple sama, tapi secara kultural , atau geopolitik mungkin beda tipis . Umpamanya di Indonesia , kita mengutarakan Indonesia mayoritas muslim, yang kemudian bicara taat atau tidak taat Itu sudah menjadi persoalan individual. Begitu juga dengan Turki,  yang 99 persen rakyat mereka Islam atau muslim, juga tidak menjadi sebuah kepastian bahwa orang Turki itu negara Islam.  Faktanya Turki tidak pernah menyatakan bahwa mereka adalah negara Islam. Walaupun faktanya mayoritas mereka Islam, sama dengan Indonesia.

"Cuma persoalannya saat ini,  politik , bagaimana politik hari ini memainkan isu sensitif sehingga menaikkan elektabilitas , dan tidak ada pemimpin di dunia yang memenangkan pemilu tidak menggunakan isu agama. Contoh Amerika, ketika Donal Trump memainkan isu sensitif tentang agama , bagaimana ketika dia terpilih kemudian dia menerapkan kebijakan imigran dari Negara Arab, Afrika, yang notabennya muslim, atau lihat bagaimana Raja Taib Erdogan yang salah satu pemimpin yang sangat berpengaruh di dunia juga menggunakan prinsip itu,” ungkap Syafri.

Ditambah dengan perkembangan teknologi informasi  saat ini, diharapkan mahasiswa dapat berpikir kritis , tidak hanya melihat situasi nasional di Indonesia tetapi juga melihat dunia, terutama Asia. Yang pola strukturnya , sedikit berbeda namun bisa dikomparasi .

Seperti komparasi penelitian perbandingan Indonesia dengan Turki, dalam pemilihan presiden di Indonesia dan di Turki. Apple to apple. Selain itu mahasiswa juga bisa mendapatkan pengetahuan yang lain. Seperti sejarah , budaya, yang dapat dijadikan pengalaman untuk kemajuan pendidikan ilmu pengetahuan.

Syafri berharap mahasiswa UBB dapat menjadi garda terdepan untuk membentuk institusi Asian Study , yang berperan dalam mengkaji seluruh isu yang ada di Asia. Baik demokrasi maupun modernisasi serta lainnya. (*)

 



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL