Perdagangan Timah Dibuka Kembali, PT Timah Tetap Dominan

Tim_Wow    •    Rabu, 06 Maret 2019 | 16:02 WIB
Ekonomi
ilustrasi (net)
ilustrasi (net)

JAKARTA,www.wowbabel.com -- Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (Indonesia Commodity and Derivatives Exchange/ICDX) meluncurkan produk kontrak fisik timah murni batangan (ex-warehouse). ICDX pun membuka kembali pintu sertifikasi tambang dan smelter dari PT Surveyor Indonesia setelah lima bulan dihentikan karena dugaan kesalahan survei terhadap tambang dan smelter ilegal. 

Dibuka kembali kontrak fisik timah dan penelusuran asal usul timah batangan oleh PT SI tak akan mempengaruhi dominasi PT Timah Tbk. Bahkan para analisi memperkirakan BUMN tambang itu makin kuat menguasai pasar timah.

"Yang  dihentikan ICDX  adalah timah batangan  diverifikasi  SI, kalau  PT Timah  Tbk tetap bertransaksi  tidak  terpengaruh jadi perdangan  timah  Indonesia  yang sudah memenuhi  persyaratan tidak  dihentikan," kata Anggi  B Siahaan Kepala Bidang  Humas  PT Timah  Tbk  kepada  wowbabel.com, Rabu  (6/3/2019).

Dominasi  PT Timah  Tbk  dalam ekspor timah batangan Indonesia  tidak  terpengaruh  oleh  kebijakan ICDX membuka kembali  perdagangan  timah  batangan yang diverifikasi PT SI  Ini juga diakui  sejumlah  analis bursa.

"Perhatian (investor) terhadap Surveyor Indonesia tidak beralasan, karena sampai saat ini Kementerian ESDM baru menyetujui rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) tiga perusahaan," ujarnya Ariyanto Kurniawan, analis PT Mandiri Sekuritas dalam riset , Senin (4/3/19) yang dikutip dari CNBC Indonesia.com.  

Tiga perusahaan itu terdiri dari TINS dan dua perusahaan lain. Penyampaian dan persetujuan RKAB tahunan adalah syarat dari Kementerian ESDM dengan periode tidak kurang dari 45 hari sebelum aktivitas penambangan dimulai.  Sesuai Peraturan Menteri ESDM No.11/2018 tentang Tata Cara Pemberian Wilayah, Perizinan, dan Pelaporan pada Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu bara. 

Dari total 37 perusahaan swasta yang terdaftar di ICDX, baru tiga yang terdaftar dan disetujui Kementerian ESDM.  Kondisi tersebut dinilai Ariyanto akan menguntungkan bagi TINS dan akan menjadikan emiten BUMN tersebut akan mendominasi ekspor timah tahun ini karena perseroan menguasai lebih dari 90% konsesi timah di Pulau Bangka.  

Tahun ini, prediksi Ariyanto, kinerja pendapatan dan laba bersih perseroan diprediksi dapat melonjak 43 persen dan 141 persen menjadi Rp 14,2 triliun dan Rp 1,25 triliun.  Dia menilai penindakan tegas terhadap penambang timah ilegal dapat mengubah keadaan TINS jika penegakan hukum diterapkan konsisten, karena dapat menghasilkan peningkatan produksi dan penurunan beban produksi.  

Apalagi, kondisi ini terjadi ketika harga saham TINS sudah turun sekitar 13 persen yang justru dapat menjadi pintu masuk membeli saham perseroan menjelang kinerja laba perseroan yang baik tahun ini. 

Dalam riset terpisah, Isfhan Helmy, Head of Research PT OCBC Sekuritas Indonesia, menilai angka target perseroan terhadap produksi timah murni 38.000 ton tahun ini cukup konservatif, dengan didasari produksi perseroan 5.200 ton pada Januari.  

"Ada kemungkinan TINS akan menaikkan target dalam revisi RKAB yang akan disampaikan pada Juli 2019 dan dapat membukukan produksi 60.000 ton sepanjang 2019," kata  Isfhan.  (*)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL