Pendiri One Asia Foundation-Tokyo Ajak Mahasiswa Kelola Ego

ADVERTORIAL    •    Selasa, 05 Maret 2019 | 19:48 WIB
Lokal
Class internasional ketiga yang diselenggarakan Fakultas Ilmusosial dan Politik (FISIP) Universitas Bangka Belitung (UBB) yang bekerja sama dengan One Asia Foundation kembali digelar, Selasa (5/3/2019). Kelas yang digelar di ruang Rektorat Universitas Bangka Belitung (UBB) ini menghadirkan pendiri One Asia Foundation Tokyo, yakni Sato Yoji.(wb)
Class internasional ketiga yang diselenggarakan Fakultas Ilmusosial dan Politik (FISIP) Universitas Bangka Belitung (UBB) yang bekerja sama dengan One Asia Foundation kembali digelar, Selasa (5/3/2019). Kelas yang digelar di ruang Rektorat Universitas Bangka Belitung (UBB) ini menghadirkan pendiri One Asia Foundation Tokyo, yakni Sato Yoji.(wb)

PANGKALPINANG,www.wowbabel.com -- Class internasional ketiga yang diselenggarakan Fakultas Ilmusosial dan Politik (FISIP) Universitas Bangka Belitung (UBB) yang bekerja sama dengan One Asia Foundation kembali digelar, Selasa (5/3/2019).

Kelas yang digelar di ruang Rektorat Universitas Bangka Belitung (UBB) ini menghadirkan pendiri One Asia Foundation Tokyo, yakni Sato Yoji.

Dalam kuliah umumnya, Sato Aji mengajak para peserta untuk dapat mengelola ego, mengingat saat ini banyak negara yang masih bertikai lantaran ego pemimpin maupun negara yang tidak dapat dikendalikan yang berakibat pada hancurnya manusia maupun dunia.

Menurut Sato , jika saat ini manusia masih terus mempertahankan egonya masing-masing maka akan ada kemungkinan akan terjadi perang dunia ketiga yang akan meluluh lantakan dunia dan manusia yang ada di bumi. Salah satunya perang yang terjadi di negara bagian Timur Tengah, seperti Afganistan maupun di negara islam lainnya.

Selain permasalahan perang, penduduk bumi juga menghadapi kesenjangan ekonomi antara orang kaya dan miskin, kemudian ada juga pertikaian, antara suku bangsa atau negara. Ada juga pertikaian antar agama. Dan satu hal yang sangat dikawatirkan oleh Asia foundation, yaitu pertikaian dari segi politik, agama yang akan datan Dengan mengolah ego, One Asia Foundatio yakin dunia yang kita tempati akan penuh kedamaian .

Sato Yoji melalui One Asia Foundation mengajak seluruh anak muda di dunia untuk dapat mengolah ego, agar dapat mencapai derajat yang paling tinggi. Untuk mencapai itu, maka seluruh manusia harus lulus dalam melewati ego. Dengan demikian kehidupan akan berjalan baik dan seimbang.

"Kita bisa lulus melewati ego, , maka kita akan mencapai derajat yang tinggi , dengan cara mendalami pengetahuan, salah satunya dengan pengetahuan agama.  Orang-orang yang beragama akan berpikir , yang menciptakan partikel yang ada di bumi adalah Tuhan, yang meyakini setelah masa kehidupan sekarang akan datang kehidupan yang selanjutnya yang mengemukakan seluruh kebenaran,” tutur Sato.

Melalui One Asia Foundation, Sato Yoji terus berupaya menyatukan dunia melalui segala bidang. Baik Negara yang tergabung dalam Asia, maupun Negara Eropa, Kanada dan Amerika.

 

One Asia Foundation sendiri telah berdiri sejak sembilan tahun lalu, dengan berpijak pada tiga prinsip, yakni, tidak membedakan suku bangsa dan negara, tidak terikat oleh agama maupun kepercayaan tertentu serta tidak terlibat dalam ranah tertentu. Dengan tujuan untuk memberikan kontribusi terhadap   pembentukan komunitas masyarakat Asia.  Untuk Indonesia, sudah ada sepuluh universitas yang melakukan kerja sama pendidikan dengan One Asia Foundation, lima diantaranya telah berjalan dan lima lainnya dalam masa penjajakan.

“Tujuan utama dari One Asia Foundation ialah untuk menghilangkan  pertikaian di dunia ini, dengan cara memasukkan program kedalam  wadah One Asia, yang merupakan kelompok atau warga organisasi dunia yang memiliki tujuan positif,” imbuh Sato.

Adapun perang yang dikawatirkan ialah perang ekonomi  yang akan berdampak fatal, diantranya , uang beredar bebas di seluruh dunia. Tidak hanya nilai komoditas seperti sumber daya energi, besi, dan baja, namun juga nilai tukar uang berfluktuasi secara besar-besaran sehingga dapat menghancurkan ekonomi suatu negara.

Sedikitnya perusahaan yang sukses dan gagal disebabkan oleh persaingan ekonomi yang bebas. Akibatnya, kehidupan para pekerja menjadi tidak stabil. Kesenjangan ekonomi tersebar luas di bawah kendali sistim ekonomi saat ini. Komersialisme telah mempengaruhi bidang pendidikan dan perawatan medis. Serta  rendahnya ketersediaan pekerjaan tetap bagi para pemuda.(*)

Halaman