Tahun Ini Juga Merpati Diminta Terbang Lagi

Tim_Wow    •    Rabu, 16 Januari 2019 | 18:25 WIB
Ekonomi
ilustrasi
ilustrasi

JAKARTA, www.wowbabel.com - Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo berharap restrukturisasi perusahaan Merpati Airlines bisa segera diselesaikan. Sehingga tahun ini Merpati bisa kembali mengudara guna membantu masyarakat dalam menjangkau wilayah terluar dan terdalam. Khususnya, di kawasan Indonesia Timur yang merupakan basis kekuatan dan keunggulan Merpati.

“Dengan jumlah penduduk mencapai 266 juta dan pertumbuhan kelas menengah yang sangat pesat, secara otomatis membuat kebutuhan transportasi penerbangan menjadi meningkat. Pergerakan warga dari satu daerah ke daerah lain sudah menjadi kebutuhan,” ujar Bamsoet saat menerima Direktur Utama Merpati Airlines, Captain Asep Ekanugraha di ruang kerja Ketua DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (15/1/2019).

Akhir Januari 2019 ini Komite Privatisasi Merpati yang  terdiri dari Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri BUMN Rini Sumarno, dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi akan menyelesaikan berbagai dokumen yang dibutuhkan dalam proses privatisasi Merpati. Setelah itu, pembahasannya akan masuk ke Komisi VI DPR RI.

“Sesuai dengan tugas dan fungsi kedewanan, melalui Komisi VI DPR RI akan membedah kembali berbagai kajian yang sudah dilakukan pemerintah. Fokus kita adalah dengan kembali mengudara. Merpati harus mampu membuka lapangan pekerjaan baru, meningkatkan investasi, menambah penerimaan pajak ke negara, sehingga bisa berkontribusi bagi pertumbuhan perekonomian nasional," terang Bamsoet dikutip dari parlemen.go.id

Bamsoet menilai, kembalinya Merpati bisa menciptakan iklim persaingan  dunia penerbangan menjadi semakin positif. Masing-masing operator maskapai penerbangan akan dituntut lebih meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat.  Apalagi sudah ada investor yang siap menyuntikan Rp 6,4 triliun ke tubuh Merpati.

“Ini harus disambut positif, karena menghidupkan kembali perusahaan yang sempat sekarat tidaklah mudah. Menggunakan pesawat buatan Rusia, MC 21, Merpati akan menyemarakan industri penerbangan tanah air yang sudah dikuasai Boeing dan Airbus. Semakin banyak konsumen memiliki pilihan, semakin baik bagi iklim usaha," pungkas Bamsoet.

Sebagaimana.diketahui November  218 lalu,  PT Merpati Nusantara Airlines diputuskan Majelis Hakim Pengadilan Niaga Sirabaya   menyetujui proposal perdamaian Merpati Airlines dengan para kreditur yang digelar di Pengadilan Negeri (PN), Surabaya, Jawa Timur. Dengan demikian, Merpati Airlines dinyatakan batal pailit.

Dengan  keputusan hakim.ini pihak Merpati  berhasil mendapat  investor yang bakal memberikan suntikan dana segar kepada perusahaan yang berdiri pada 6 September 1962 ini.

Presiden Direktur Merpati Nusantara Airlines Asep Ekanugraha menjelaskan, Merpati mendapat suntikan dana dari Intra Asia Corpora. Perusahan ini merupakan investor dalam negeri yang terafiliasi dengan Asuransi Intra Asia dan PT Cipendawa yang sempat terdaftar di Bursa dengan kode emiten CPDX.

Intra Asia Corpora siap menyuntikkan dana hingga Rp 6,4 triliun.  Kucuran dana tersebut akan menetes bertahap sesuai kebutuhan operasional dalam jangka dua tahun.

Dengan ada dana tersebut, Merpati Airlines setidaknya bisa kembali memiliki pesawat dan mulai mengurus izin rute terbang dan investasi operasional lainnya.

Menurut Asep, alasan Merpati masih ingin terbang di Indonesia karena pasar di Indonesia masih sangat terbuka. Selain adanya destinasi wisata baru, pembangunan infrastruktur bandara, menunjukkan kebutuhan penerbangan meningkat.

Untuk itu, jika seluruh proses kucuran dana dan perizinan telah selesai, Asep mentargetkan merebut pasar di 10 destinasi wisata baru. Destinasi tersebut yakni Danau Toba (Sumut), Belitung (Babel), Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Candi Borobudur (Jateng), Gunung Bromo (Jatim), Mandalika Lombok (NTB), Pulau Komodo (NTT), Taman Nasional Wakatobi (Sulawesi Tenggara), dan Morotai (Maluku Utara).

Asep menilai potensi pasar penerbangan Indonesia, tidak cukup dilayani Garuda yang main di kelas atas dan beberapa maskapai swasta. Kehadiran Merpati nantinya akan bisa mengisi slot rute penerbangan ini sehingga tidak hanya didominasi maskapai swasta.

"Potensi pasar yang kami incar sangat besar. Seperti pemerintah membangun bandara itu untuk siapa, jika BUMN sendiri juga tidak memanfaatkan fasilitas tersebut. Ini akan menjadi cekungan potensi investasi baru yang tentu menjadi harapan revenue bagi Merpati," pungkas Asep.

Ia melanjutkan, jika beroperasi nanti Merpati Airlines tak akan menggunakan pesawat buatan Boeing dan Airbus. "Pesawat yang kami gunakan adalah buatan Rusia dan bukan yang pernah kecelakaan di Gunung Salak," kata Asep.

Selain itu, Merpati juga tidak akan bermain di segmen maskapai penerbangan bertarif rendah (LCC) dan akan menyasar penerbangan ke wilayah Indonesia barat yang dinilai sangat potensial juga memungkinkan ke luar negeri.

"Kami sudah belajar dari kejatuhan perusahaan dan saatnya menatap ke depan yang lebih baik. Apalagi selain pemerintah dan investor swasta yang mendukung, sudah banyak perusahaan asuransi yang ikut mendorong beroperasinya MNA lagi," kata Asep. (*)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL