KEK Sungailiat dan Tanjung Gunung PR Gubernur

Tim_Wow    •    Rabu, 02 Januari 2019 | 13:59 WIB
Nasional
Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Gubernur Babel Erzladi  Rosman Djohan foto bersama di kawasan wiasta Tanjung Gunung beberapa waktu yang lalu.(foto:wowbabel)
Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Gubernur Babel Erzladi Rosman Djohan foto bersama di kawasan wiasta Tanjung Gunung beberapa waktu yang lalu.(foto:wowbabel)

BANGKABELITUNG, Wowbabel.com -- Proses penetapan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sungailiat dan Tanjung Gunung masih terbentur wilayah izin usaha penambangan (IUP) PT Timah Tbk. Jika masalah lahan pertambangan  selesai, maka pemerintah akan menetapkan KEK di Pulau Bangka ini bersama KEK Singsari di Jawa Timur.

Pemerintah berencana menambah tiga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) baru pada 2019. Ketiga KEK  terletak di Sungailiat dan Tanjung Gunung di Bangka Belitung, serta Singosari di Jawa Timur. 

“Yang baru hanya tiga. Kalau itu dilengkapi semuanya, mungkin bisa ditetapkan tahun depan,” ujar Sekretaris Dewan Nasional KEK Enoh Suharto Pranoto di Jakarta beberapa hari lalu dalam siaran pers . 

Enoh menuturkan, KEK Singosari diperkirakan akan beroperasi terlebih dahulu karena di nilai telah siap. Sementara dua KEK lainnya di Bangka Belitung masih harus berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat. 

“Itu masih harus koordinasi karena ada tambang timah di Bangka Belitung. Nanti koordinasi dengan ESDM, PT Timah, dan pemerintah daerah. Itu PR (pekerjaan rumah) gubernur,” tuturnya.  

Sebelumnya  Rapat Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (Denas KEK) yang dipimpin oleh Menko Perekonomian selaku Ketua Denas KEK sudah menyepakati usulan kawasan Tanjung Gunung dan Sungailiat di Kabupaten Bangka, menjadi KEK. Dewan KEK memberi  catatan, perlu diselesaikannya masalah IUP Operasi Produksi Timah, serta kejelasan terkait deliniasi wilayah (garis batas wilayah tata guna lahan) baik di darat maupun di laut. Namun hingga Desember 2018, masalah IUP PT Timah ini juga belum selesai.

Rencana bisnis yang akan digarap di KEK Tanjung Gunung dan Sungailiat, antara lain Pariwisata (Integrated Coastal Entertainment  Destination), Akomodasi (hotel, resort, glamping, homestay), Entertainment (Old Town Garden, Hillcrest Park,  Theme Park, Water Park, Wetland Park), Commercial (MICE & Mall, Lifestyle Beach, Festival  Beach, Arts & Crafts Market, Boardwalk & Marina,  Commercial Center), serta kawasan Residential.

Enoh Suharto Pranoto menuturkan, nilai investasi Pembangunan Kawasan KEK Tanjung Gunung senilai  Rp 1,5 T, dengan Investasi Pelaku Usaha  Rp 4,6 T. sedangkan, untuk KEK Sungailiat nilai investasi pembangungan senilai  Rp 601,9 Miliar, serta Investasi tenant  Rp 5 Triliun.

“Kita harus komitmen, kalau lahan tersebut tidak dibuat untuk pertambangan, agar tidak tumpang tindih,” tegas Menko waktu itu.

Sementara itu Gubenur Bangka Belitung Erzaldi Rosman Djohan menerangkan Provinsi Bangka Belitung akan bertranformasi dari sebelumnya mengandalkan tambang, kini bergeser ke sektor pariwisata.

"Kami Pemerintah Provinsi Bangka Belitung membuat kebijakan dan hal pertumbuhan ekonomi masyarakat sudah memutuskan untuk transformasi kebijakan yang tadinya tambang kita tranformasi ke pariwisata," ujarnya.

Erzaldi membenarkan ada catatan soal masalah tambang timah yang harus diselesaikan pada wilayah yang akan ditetapkan sebagai KEK.

"Memang belum diputuskan karena masih ada catatan kecil, satu hal berkenaan dengan adanya tambang di sekitar daerah yang akan kita tetapkan KEK ini. Jangan sampai kita mendua, dalam arti tambang atau pariwisata, mana yang menguntungkan, jadi kita minta ketegasannya," jelasnya.

"Nanti kita  koordinasi lagi dengan PT Timah dan ESDM, mudah-mudahan ada satu keputusan yang baik dalam hal pariwisata," kata Erzaldi.

Sejak 2014, pemerintah sudah menetapkan 10 KEK yang diluncurkan untuk mendorong potensi ekonomi daerah di kawasan sekitar. KEK tersebut antara lain Sei Mangke, Tanjung Api-Api, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Mandalika, Maloy Batuta Trans Kalimantan, Palu, Morotai, Sorong, dan Arun Lhokseumawe.

Meski demikian, beberapa KEK tersebut belum sepenuhnya diresmikan oleh pemerintah karena masih ada persoalan status lahan atau tata ruang. Salah satunya Maloy Batuta Trans-Kalimantan di Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur, yang saat ini sudah diupayakan proses percepatan status lahannya oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Pemerintah mengharapkan kawasan ekonomi yang kaya sumber daya alam ini dapat diresmikan paling cepat pada Januari-Februari 2019. Selain itu, Tanjung Api-Api di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, masih harus mengalami revisi Peraturan Pemerintah karena terdapat tambahan perluasan wilayah yaitu Tanjung Carat. (*)



MEDSOS WOWBABEL