Bandara Depati Amir Rugi Rp 25 Miliar 

Tim_Wow    •    Rabu, 28 November 2018 | 08:19 WIB
Nasional
Bandara Depati Amir Pangkalpinang.(net)
Bandara Depati Amir Pangkalpinang.(net)

WOWPANGKALPINANG -- PT Angkasa Pura  II operator  Bandara Depati  Amir  Pangkalpinang merugi Rp 25 Miliar pada tahun 2018 . 

Oleh sebab itu Komisi V DPR RI mendorong operator  bandara untuk  menekan kerugian  seminimal mungkin  hingga mencapai  impas ( break even  point). Kerugian Bandara Depati  Amir terungkap saat Komisi V DPR RI menggelar pertemuan dengan sejumlah mitra kerja terkait di Pangkalpinang, Jumat (23/11/2018).

“Angkasa Pura II menjelaskan kerugian Rp 25 miliar ini akan dicari efisiensinya, sehingga kerugian bisa ditekan menjadi Rp 21 miliar. Dan akhirnya mencapai BEP (Break Even Point atau titik impas, RED),” kata Wakil Ketua Komisi V DPR RI Anton Sukartono Suratto usai memimpin pertemuan Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR RI dengan sejumlah mitra kerja di Pangkalpinang, Babel dikutip  dari dpr.go.id.

Hadir dalam pertemuan ini mitra kerja Komisi V DPR RI, diantaranya Kementerian Perhubungan, Direksi PT. Angkasa Pura II, Otoritas Bandara Depati Amir Pangkalpinang, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Basarnas, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT), Airnav, dan Balai Besar Wilayah Sungai VIII.

"Kita butuh pengembangan. Jadi, strategi apa yang akan dilakukan, sehingga untuk menambah pendapatan tercapai, pembangunan juga tercapai. Jangan sampai kita rugi, dan membiarkan saja. Operasional bandara harus tetap berjalan, tidak boleh tutup,” ujar legislator daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat V itu.

Menanggapi sorotan dari Tim Kunspek Komisi V DPR RI, Direktur Teknik dan Operasi PT. Angkasa Pura II (PT. AP II) Djoko Murjatmodjo menjelaskan, dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) yang disusun pada tahun 2018, diperkirakan Bandara Depati Amir akan mengalami kerugian hingga Rp 25 miliar. Namun, PT. AP II berkomitmen menekan angka kerugian, sehingga diperkirakan berada di angka Rp 21 miliar.

Selain itu, PT. AP II juga akan menekan Earnings Before Interest, Tax, Depreciation and Amortization (EBITDA) dari 11 menjadi 8, dan ditargetkan tahun depan menjadi 0.

“Upaya yang kami lakukan adalah optimalisasi terhadap pendapatan dan juga efisiensi biaya. Efisiensi biaya, kami menggeser investasi yang tidak menjadi prioritas. Satu contoh adalah landasan (runway). Landasan sepanjang 2600 meter, yang sudah bisa dipakai 2250 meter. Tapi hingga hari ini pesawat terbesar dan jarak terbang terjauh, belum membutuhkan landasan 2600 meter, sehingga pengembangannya kami tunda,” jelas Djoko.

Tidak hanya  Bandara  Depati  Amir, ada dua bandara lagi dibawah PT AP II  yang merugi. Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin menyebut terdapat tiga bandara yang masih merugi di tahun ini. Tiga bandara tersebut, yakni Bandara Silangit, Bandara Banyuwangi, dan Bandara Depati Amir. Awaluddin menuturkan, laba bersih tiga bandara tersebut hingga akhir tahun masih negatif. 

"Net incomenya negatif mostly karena kita membangun dari depresiasi. Tapi ebitdanya yang kita dorong untuk terus positif. Untuk membuat Ebitda positif salah satunya dengan menaikkan revenue, berarti harus menaikkan traffic," ujar Awaluddin beberapa waktu  lalu.

Meski demikian, Awaluddin  menuturkan, kerugian tiga bandara tersebut masih tertutup dari bandara yang mengalami pertumbuhan positif. Bandara tersebut diantaranya, Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Kualanamu Medan, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Saat  peresmian Terminal  Baru  Bandara  Depati  Amir  akhir tahun 2017, Awaluddin berjanji untuk menghindari operation lost .

"Untuk itu, kami mengejar kinerja positif dari bandara ini,” ujar Muhammad Awaluddin saat  itu.

Dia menjelaskan, upaya yang dilakukan perseroan di antaranya yaitu melalui revitalisasi terminal baru di Bandara Depati Amir. Dengan diperbaruinya terminal tersebut, perseroan berharap bisa menyesuaikan tarif passenger service charge (PSC). 

Lebih lanjut Awaluddin menjelaskan, terminal baru di Bandara Depati Amir mampu melayani 1,5 juta penumpang per tahun dari sebelumnya hanya separuhnya. Dia mengakui, pertumbuhan jumlah penumpang dari dan menuju Pangkal Pinang setiap tahunnya terus bertambah.

Investasi pembangunan terminal baru di Bandara Depati Amir mencapai Rp 300 miliar. Pada tahun 2017 mencatat pendapatan sebesar Rp 59 miliar atau tumbuh 55% dari raihan tahun 2016 sebesar Rp38 miliar.  Luas lahan di area Bandara Depati Amir mencapai 152 hektare (ha), saat ini yang sudah terbangun seluas 4 ha. Pada tahun 2018 pembebasan lahan oleh Pemprov Bangka Belitung seluas 69 ha untuk bandara.(*)



TRENDING TOPICS
MEDSOS WOWBABEL