Harga Sawit 'Sakit', Petani Menjerit

Tim_Wow    •    Sabtu, 03 November 2018 | 20:21 WIB
Ekonomi
Ilustrasi
Ilustrasi

WOWEKONOMI - Pemberlakukan Peraturan Gubernur Bangka Belitung tentang harga beli Tandan Buah Segar (TBS) sawit rakyat oleh perusahaan pemilik pabrik CPO tak berdampak terhadap pendapatan petani.

Alih-alih harga membaik, justru sebaliknya, harga makin tertekan. Sempat  terkerek Rp700 per kilogram, tak lama bertahan harga tandan buah segar kembali terjun bebas Rp400 per kilogram.

"Saya minggu kemarin  jual ke penampung di kampung cuma Rp400 per kilo, kalau turun harganya, bisa mati," ujar Dohri petani sawit asal Desa Kelapa Kabupaten Bangka Barat.

Petani dihadapi pilihan sulit, bila buah sawit dari kebun tak dipanen akan membusuk. Sementara harga jual TBS tak sesuai dengan biaya produksi 

"Pupuk saja mahal, kalau tidak dipanen dari mana dapat duit untuk kebutuhan makan keluarga," ujarnya yang kini mencari pekerjaan sampingan untuk membiayai kebutuhan dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar, Sabtu (3/11/2018).

"Saya panen dan jual sawit 740 kilo biar keluarga punya pegangan untuk makan," tukas Dohri.

Sekitar desa tempat tinggalnya, sawit dari kebun rakyat dijual  ke penampung. Lalu dibawa ke pabrik milik PT THEP di Desa Neknang  Kecamatan Bakam, Kabupaten Bangka. Truk pengangkut buah sawit antre hingga malam untuk mengantarkan TBS ke pabrik.

Di Bangka Barat PT THEP yang beli sawit rakyat. Seminggu, sebelum harga Rp700, masuk berita makin parah harganya bukan malah bagus.

Keluhan para petani sawit di Bangka sampai ke telinga Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Didit Srigusjaya. 

Diapun menumpahkan kekesalannya, saat rapat bersama tim satgas kelapa sawit Pemerintah Provinsi  Babel yang dipimpin Yulizar Adnan, di ruang Badan Anggaran (Banggar) DPRD Babel saat rapat digelar Kamis (1/11/2018).

Hadir juga dalam rapat tersebut Wakil Ketua DPRD Babel Toni Purnama, Ketua Komisi II Aksan Visyawan, dan anggota DPRD Babel lainnya.

"Kita minta Pemprov Babel harus tegas menyikapi persoalan ini. Kita mendapat informasi tidak adanya pengiriman karena persoalan kapal. Itu kan bisnis antara pengusaha dengan pemilik kapal. Ternyata tadi informasi dari pelabuhan, ada pengiriman," kata Didit. 

DPRD Babel lanjut Didit, menyarankan Gubernur Babel bersama Forkopimda mengundang perusahaan-perusahaan sawit di Babel untuk membahas persoalan tersebut. 

"Kita minta tolong pihak perusahaan bantulah masyarakat Bangka Belitung. Kita juga minta pemerintah harus tegas," imbuhnya.

Kekesalan Didit bukan  tanpa  alasan, rapat di DPRD  soal harga sawit  rakyat  ini sudah  berkali-kali, bahkan  sempat juga  menghadiri  perwakilan perusahaan  perkebunan. Namun  masalah harga beli sawit rakyat  ini tak  memberi jaminan  akan perbaikan harga. 

"Baca di koran  harga sawit akan naik, tapi kenyataannya malah turun," ujar Dohri. (*)

Halaman