Usaha Berkembang, Cicilan Lancar

ADVERTORIAL    •    Kamis, 04 Oktober 2018 | 16:41 WIB
Ekonomi
Penyaluran dana kemitraan PT Timah. (ist)
Penyaluran dana kemitraan PT Timah. (ist)

WOWHUMASTIMAH - Dua puluh  empat  tahun silam, Pana (70) menghakhiri  masa bhaktinya di PT TIMAH Tbk setelah hampir 35 tahun sebagai karyawan yang bertugas di Manggar Belitung Timur. Tahun 1994 Pana kembali ke Desa Perawas, Tanjungpandan .

Untuk mengisi masa pensiun agar produktif, Pana bersama isteri membuka toko persis di depan rumahnya  di di jalan utama Tanjungpandan-Manggar .  Toko semi permanen ukuran 3x4 meter melayani jual beli bensin dan solar dengan modal awal Rp5 juta dari uang pensiun yang ia terima.

Bisa dibayangkan, kondisi  jalan raya Tanjungpandan-Manggar 24 tahun silam itu tak seramai sekarang ini orang berlalu lalang. Hanya sesekali kendaraan melintas. Mendengar suara kendaraan,  Pana dan isteri berharap, ada pembeli bensin atau solar singgah ke tokonya. Atau membeli makan dan minuman. Berharap kepada tetangga untuk berbelanja ke toko tidak bisa diandalkan. Jumlah tetangga di kiri kanan  rumah tak sepadat seperti saat ini.

Mengandalkan uang pensiun tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi kedua anaknya masih membutuhkan biaya untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Dari hasil toko dengan modal kurang lebih Rp5 juta, Pana berupaya untuk  mengembangkan usahanya.

Pada tahun 2007, dia mendapat pinjaman dana untuk modal usaha lewat Program Kemitraan PT TIMAH Tbk sebesar Rp15 juta. Pinjaman ini dimaksimalkannya untuk menambah peralatan toko kelontong sebab jalan  utama menuju Bandara HAS Hanandjoeddin di Bulu Tumbang pada tahun 2007 itu mulai ramai dilewati orang.

“Setahun sebelumnya saya memperbaiki  toko agar lebih besar, jadi butuh tambahan dana untuk modal. Karena saya pernah di PT TIMAH Tbk jadi saya mengajukan pinjaman modal. Alhamdulillah permohonan saya dikabulkan,” kata Pana.

Dari bantuan modal itu usaha Pana mulai berkembang. Cicilan bulanan pun lancar. Bahkan sebelum jatuh tempo sudah dilunasi lebih dahulu. Karena itulah PT TIMAH kemudian mengucurkan pinjaman berikutnya untuk mengembangkan usaha yang telah dirintis Pana secara berturut-turut sebesar Rp20 juta kemudian Rp25 juta. Bahkan terkahir Pana menerima pinjaman mencapai Rp50 juta.

Modal usaha ini tak dia sia-siakan. “Tambahan modal untuk mengisi barang toko, saya juga membuka kos-kosan sebanyak tiga pintu untuk pelajar maupun pekerja. Kalau pinjaman berikutnya rencana saya untuk menambah  kamar kos menjadi 10 pintu,” ujarnya.

Sama halnya dengan pinjaman terdahulu.  Pihak PT TIMAH tak perlu pusing soal cicilan pengembalian uang pinjaman. Tiap bulan Pana rutin menyetor cicilan, malah sebelum waktu sudah dilunasi terlebih dahulu.  Bahkan Pana berani membayar cicilan bulan lebih dari yang ditentukan PT TIMAH agar cepat lunas.

“Pak Pana ini tak pernah nunggak cicilan, malah kalau mau mengajukan pinjaman lagi, tiga bulan sebelum berakhir sudah dilunasi pinjamannya,” ujar Eka Risnaldy staf Bidang PPM dan CSR PT TIMAH Tbk di Belitung.

Pana sangat merasakan keberadaan perusahaan tambang tersebut karena beberapa kali mendapat bantuan pinjaman untuk modal usaha. Dari usaha ini pula dia mengisi waktu pensiunnya menjadi produktif. Apalagi kedua anaknya bisa merampungkan pendidikan tinggi dan mandiri. 

“Saya sangat terbantu dari pinjaman modal PT TIMAH. Saya mengucapkan terimakasih karena usaha saya jadi berkembang . Semoga saja perusahaan ini bisa terus berjaya dan makin memberikan manfaat yang banyak bagi masyarakat di Bangka Belitung,” ujar Pana.

Toko yang dulunya dari dinding papan seluas 4,5 meter, kini berdiri kekar dengan tembok dan mencapai luas 14 meter per segi. Dari modal pinjaman ini pula berdiri bangunan toko yang dia disewakan. Usahanyapun terus berkembang. (ADV)



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE