BPK Diminta Audit Scufindo dan Surveyor Indonesia

Anjar Sujatmiko    •    Sabtu, 02 Juni 2018 | 16:48 WIB
Ekonomi
Deddy Yulianto, Wakil Ketua DPRD Babel.
Deddy Yulianto, Wakil Ketua DPRD Babel.

WOWPANGKALPINANG - Wakil Ketua DPRD Bangka Belitung Deddy Yulianto mengaku prihatin setelah mendengar dugaan banyaknya smelter di Babel yang memasok timah kepada tiga negara produsen timah yakni Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Hal ini, kata Deddy, dikarenakan adanya proses yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Tahapan proses yang dimaksud Deddy adalah proses penyusunan RKAB yang seharusnya mencantumkan laporan cadangan mineral timah terkandung dalam IUP, akan tetapi diduga laporan cadangan timah tersebut tidak sesuai dengan fakta yang di lapangan. Sehingga ada proses yang tidak dilalui, dan berdampak pada RKAB yang ajukan tidak sah.

"Kita prihatin mendengarnya, apalagi SDA yang keluar dari babel tanpa melalui tahapan yang kurang lengkap. Kalau tidak ada proses laporan cadangan mineral mestinya RKAB tidak disahkan," ujarnya, Sabtu (2/6/2018).

Ia pun meminta kepada pemerintah baik pusat maupun daerah daerah untuk memperketat aturan ekspor timah. Termasuk peran Scufindo dan Surveyor Indonesia (SI) selaku pihak yang diberikan kewenangan untuk melakukan verifikasi timah sebelum ekspor.

Seharusnya SI dan Scufindo tidak hanya memverifikasi kualitas logam saat ekspor namun juga memverifikasi asal usul pasir timah, sehingga dapat dipertanggungjawabkan.

"Mestinya pihak SI dan scofindo tidak hanya memverifikasi kualitas logam saat ekspornya saja, namun asal usul pasir timah mestinya dari hulu sampai hilir dapat di pertanggujawabkan,"



1   2