Jazz on The Bridge, Rasakan Bedanya

Abeng    •    Kamis, 21 Desember 2017 | 14:55 WIB
Travel
Jazz on The Bridge
Jazz on The Bridge

WOWTRAVEL -- Idang Rasjidi, musisi jazz Indonesia akan melakukan apapun untuk kemajuan Bangka Belitung kampung halamannya. Pendiri Omah Moesik lahir di Pangkal Pinang, pada 26 April 1958, penghujung 2017 ini kembali memberikan yang istimewa.

Dia memboyong sejumlah musisi jazz kondang ajang Jazz on the bridge. Tompi, Faris RM, Mus Mujiono, adalah sejumlah nama beken di dunia jazz tanah air akan tampil di panggung jazz dengan background Jembatan Emas kawasan lintas timur pada 29-30 Desember 2017.

"Sudah kewajiban saya untuk memberikan terbaik bagi Bangka Belitung. Babel perlu dipromosikan segala keindahannya sehingga pariwisatanya maju, seperti musik jazz yang bisa saya berikan bagi Babel," kata Idang Rasjidi dalam wawancaranya dengan Motion FM Pangkalpinang, Minggu (17/12/2017) petang.

Menggelar pertunjukan jazz di tanah kelahirannya , bagi Idang bukan pertama kalinya. Hampir tiap tahun Idang manggung di Pangkalpinang. Bagi Idang, musik jazz bukan barang mahal dan eksklusif. Di pelataran rumah dinas hingga parkir kantor walikota, Idang tampil dengan kemampuan terbaiknya.

"Saya lakukan yang terbaik untuk Babel, bukan semata mata untuk musik," tukas Idang.

Sebagai seorang musisi Jazz berjiwa entertainer, beliau sangat menjunjung tinggi nilai edukasi musik dan pengembangan bakat khususnya musik jazz kepada masyarakat. Dasar piano memang belajar dari seorang guru piano pertama yang bernama Ny. Kardana. Sedangkan pengembangan talenta musik dan pengetahuan mendalam tentang musik beliau dapatkan dari wawasan, pengalaman dan entertainment bermusik.

Musik jazz menarik perhatiannya karena keterpengaruhannya dari lingkungan keluarga. Orang tua Idang sering memutar piringan hitam musik jazz. Awal karir Idang muda bermain musik ketika berkenalan dengan Abadi Soesman yang mengajaknya bergabung di sebuah acara paket anak-anak di TVRI. Saat itu beliau tidak bermain piano, namun bermain instrumen bass. Kemudian Idang Rasjidi dipercaya untuk memainkan keyboard di kelompok Abadi Soesman Band. Sejak itulah mulai dikenal sebagai seorang pianis yang memiliki warna jazz.

Komitmen beliau terhadap musik jazz tumbuh semakin kuat ketika masa muda yang selalu belajar dari berbagai guru pengalaman baik lokal maupun internasional. Namun sampai saat ini, kebiasaanya masih tetap belajar dan mengajar dengan memberikan pemahaman melalui workshop tentang musik jazz kepada orang-orang disekitarnya.

Berawal dari ketekunannya mengasah musikalitasnya sejak dini dan menyalurkan ilmunya atas dasar rasa (feel) kejujuran, keikhlasan dan kesederhanaan membuat Idang Rasjidi menjadi musisi jazz legendaris yang berguna di berbagai pelosok daerah maupun di Internasional.

Menurutnya, musikalitas adalah sense musik termasuk tastenya dalam membuat musik, berfikir, berbicara nya sangat berkesenian dapat dilihat dari karyanya dan permainannya. Musik jazz bagi musisi Idang Rasjidi bukanlah seni ekslusif, karena musik ini justru berasal dari masyarakat yang tertindas. Musik jazz adalah musik spontanitas yang menggambarkan kehidupan dengan sebuah analogi kesederhanaan, ketidaksombongan, kejujuran, keikhlasan dan kenyamaanan.

Bermain musik jazz tidak harus di tempat-tempat elit, karena ternyata musik jazz pun tumbuh subur di jalanan, dan dimainkan oleh semua kalangan. Jazz on the bridge bagian dari keikhlasan Idang memberikan apa yang dia miliki bagi kampung halamannya.

"Datang saja, akan ada perbedaan dari konser jazz yang pernah ada di tanah air. Rompi, Musmudjiono, dan Garis RM tampil dengan kemampuan masing masing, mereka mendukung acara ini, hanya dengan telpon mereka bersedia ke Babel," tukas Idang.

Panggung jazz berlatar jembatan bisa jadi yang pertama di Indonesia, selama ini yang pernah digelar jazz di pantai, jalan, bus, hingga kaki gunung. Nah Babel menyuguhkan nuansa yang berbeda, jazz di jembatan emas yang hendak dijadikan icon baru Babel. Panitianya menggariskan tontonan yang istimewa ini.

"Datang saja, ini gratis, karena memang untuk masyarakat Babel," tukas Ahmadi panitia jazz on the bridge.(ban)

Halaman


Topik