Masyarakat Butuh Figur Pekerja

Anjar Sujatmiko    •    Rabu, 13 Desember 2017 | 12:52 WIB
Opini
Ibrahim, Akademisi FISIP UBB.
Ibrahim, Akademisi FISIP UBB.

Konstelasi politik di Pangkalpinang sepertinya akan menjadi Pilwako yang panas jika tidak dikelola dengan arif diantara para kandidat.

Acara 'Bekisah kek Kandidat Walikota' yang digelar oleh KNPI kota bekerjasama dengan Ilmu Politik UBB pada tanggal 9 Desember  2017 menunjukkan tanda-tanda bahwa Pilwako akan diwarnai dengan aroma yang riuh.

Diskusi yang dikemas santai dan informal sudah diselingi dengan politik keakuan dan sindir menyindir. Meski para figur yang hadir masih jauh dari kata ditetapkan, namun sepertinya aroma kompetisi sangat terasa.

Sekilas hal ini biasa dalam dunia politik, namun saya kira para kandidat sebaiknya menampakkan kerangka dialogis yang lebih membangun. Saling melengkapi dan mengapresiasi mungkin akan jauh lebih positif bagi publik luas ketimbang saling menegasi.

Sekurang-kurangnya ada dua hal yang saya amati. Pertama bahwa politik keakuan sebisa mungkin dikurangi. Klaim-klaim keberhasilan akan kurang substantif ketimbang diksi 'akan'. Narasi keakuan akan cenderung pada keangkuhan. Hal ini tidaklah mencerminkan perilaku pemimpin yang santun dan sarat pengalaman.

Kedua, tabiat mencela kondisi eksisting memang laku dijual, tapi tidak konstruktif bagi peradaban politik. Tidak majunya incumbent mendorong pada semakin massifnya kemungkinan menyalahkan kondisi saat ini sebagai basis untuk membangun keunggulan. Hal ini kurang positif bagi elegansi politik.

Oleh



1   2