Ancaman dari Letusan Gunung Agung

Muri_Setiawan    •    Senin, 27 November 2017 | 10:14 WIB
Viral
Ahli Geofisika, Jacqueline Salzer memantau aktivitas gunung berapi Avachinskaya Sopka di Kamchatka, Rusia. (dokpri)
Ahli Geofisika, Jacqueline Salzer memantau aktivitas gunung berapi Avachinskaya Sopka di Kamchatka, Rusia. (dokpri)

WOWVIRAL - Ahli geofisika, Jacqueline Salzer dalam wawancaranya dengan salah satu media Jerman Deutsche Welle (DW) mengatakan bahwa Gunung Agung memiliki potensi letusan yang sangat mematikan.

Wawancara yang dilakukan Fabian Schmidt tanggal 29 September 2017 lalu, Jacqueline menjelaskan bahwa Gunung Agung di Karangasem Bali merupakan "Gunung api yang demikian kerap ditemukan pada zona subduksi tektonik".

"Jika magmanya sangat kental, maka gunung berapi tersebut sangat eksplosif. Penyebabnya karena gas yang terperangkap di dalam magma mendapat tekanan. Ketika magma naik ke permukaan maka tekanannya pun semakin meningkat. Tapi ketika gunung berapi meletus, maka tiba-tiba gas tersebut pun terbebas. Dengan demikian, letusan benar-benar memuntahkan magma menjadi beberapa bagian, yang menyebabkan awan abu yang sangat besar. Letusan ini akan berulang dan bisa berlanjut selama beberapa hari, karena ada sumber magma yang konstan. Gas pun naik ke permukaan dan melepaskan energi," bebernya.

Lalu, seberapa besarkah bahaya letusan tersebut bagi penduduk sekitar kawasan Gunung Agung, dikatakan Jacqueline, pada letusan yang terakhir, sebagian besar korban tewas akibat aliran piroklastik. Itu adalah gas panas, abu vulkanik dan bebatuan yang bergerak cepat meluncur menuruni sisi gunung. Ini adalah ancaman terbesar.

"Itu adalah peristiwa yang sangat cepat: aliran piroklastik memiliki kecepatan hingga ratusan kilometer per jam. Tidak seorang pun dapat luput. Anda harus berada sangat jauh dari gunung berapi  - dan cukup dini – agar dapat selamat," ujarnya.

Bahaya besar lainnya adalah "lahar". Kata itu berasal dari bahasa Indonesia yang berarti aliran lumpur yang terbentuk ketika material dari letusan gunung berapi bercampur dengan air hujan.

Lahar ini mengalir melalui sungai dan lembah yang turut membawa material bebatuan yang besar. Alirannya dapat menghancurkan jembatan dan rumah-rumah, bahkan bisa menimbun desa-desa. Itu adalah bahaya kedua terbesar akibat letusan gunung api.

"Selain itu, debu vulkanis juga dapat terlontar hingga ketinggian 20 kilometer. Debu yang padat ini bisa turun di atas permukiman. Bahaya lainnya adalah aliran lava yang panas," ungkapnya.

Dia juga menyoroti bebatuan besar atau yang dikenal dengan sebutan "bom" saat terjadi letusan. Namun, hal itu tergantung pada letusannya. 

Sebelumnya  letusan Gunung Agung melontarkan bebatuan seukuran kepala. Sekarang, pihak berwenang memperingatkan perkiraan diameter bebatuan yang terlontar bisa mencapai puluhan sentimeter. Tapi ada juga kasus dimana "bom" berukuran beberapa meter kubik dan beratnya beberapa ton.

"Itu semua tergantung pada intensitas letusan dan jarak ke kawah. Pada prinsipnya: semakin jauh dari kawah maka "bom" pun semakin kecil," tukasnya.

Gunung Agung, pada tahun 1963-1964 sempat meletus, tetapi dirinya tidak dapat memastikan apakah ada kaitan dengan ritme letusan saat ini dengan seabad lalu tersebut.

"Kita mengetahui bahwa letusan Gunung Agung terbesar terjadi tahun 1843, tapi kita hanya mengetahui sedikit sekali apa yang sebenarnya terjadi," jelasnya.

Ada beberapa gunung berapi yang tampaknya mengikuti siklus tertentu, tapi itu adalah pengecualian. Dirinya tidak dapat berpedoman pada prognosis yang didasarkan pada faktor tersebut, atau mencoba memprediksi letusan berikutnya berdasarkan model tersebut.

"Kita harus tetap ingat, pada kasus gunung berapi yang meletus secara rutin, warga kerap kali sudah terbiasa berhadapan dengan situasi tersebut. Seperti pada kasus yang terjadi di Gunung Etna di Sisilia. Penduduk di sana sudah pernah mengalami nya. Di Bali, sebagian besar warga tidak lagi mengingat letusan sebelumnya," imbuhnya.

Dr. Jacqueline Salzer bekerja di Pusat Penelitian Geosains Jerman bidang gempa bumi dan fisika gunung berapi. Secara khusus, geofisika memantau gunung berapi aktif lewat kamera dan data yang berasal dari satelit observasi radar bumi TerraSAR-X. Fokus utama penelitiannya adalah mempelajari perubahan geometri dari gunung berapi sebelum, selama dan setelah letusan.



MEDSOS WOWBABEL
OPINI KITE